Anak Muda Milenial Menyongsong Pemilu 2019

January 30, 2019

kampanye digital

pliggseo.net – Era digital telah membawa perubahan di segala bidang, bahkan sampai merubah gaya hidup seseorang. Salah satu sebabnya karena semakin berkembangnya internet dan mudahnya mendapatkan informasi sehingga hal tersebut bisa merubah cara pandang atau paradigma seseorang. Terutama untuk kalangan milenial atau yang rentang usianya dari 17-35 tahun, tentu hal-hal yang berbau digital sudah menjadi kesehariannya.

Bahkan untuk kampanye di Pemilu 2019 kali ini pemilih milenial memiliki porsi 40% dari total pemilih di Indonesia. Yang artinya pemilih di rentang usia tadi bisa dengan mudah mencari informasi terkait Pemilu, Caleg, dan hal lainnya yang berkaitan dengan Pemilu menggunakan media internet.

Oleh karena itu, cara berkampanye di Pemilu kali ini pun juga bisa bertambah selain menggunakan cara konvensional seperti spanduk, poster, baliho dan sebagainya. Yaitu dengan menggunakan media digital seperti website caleg, media sosial caleg, dan lainnya dengan harapan bisa menjangkau pemilih lebih efektif dan efisien. Dan hal tersebut rupanya ditangkap oleh para peserta Pemilu 2019 baik partai maupun calon anggota legislatif yang mengusung para Caleg muda.

Caleg Muda Menggaet Suara Milenial

Fenomena Calon Anggota Legislatif (Caleg) dari kalangan anak muda pada Pemilu Legislatif 2019 kali ini cukup menarik dan menyita perhatian masyarakat. Karena tidak sedikit para anak muda ini diusung oleh partai yang menaungi mereka untuk maju mencalonkan diri langsung menjadi caleg DPR di Senayan, Jakarta. Tak terkecuali pemuda bernama Abdul Hakim Bafagih yang diusung Partai Amanat Nasional (PAN) untuk maju dari wilayah Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto, Kabupaten Madiun, Kota Madiun dan Nganjuk atau Dapil 8.

caleg muda menggaet milenial

Baca Juga : Volume Lingkaran

Pemuda yang sering disapa Hakim ini masih berusia 26 tahun, berstatus lajang dan dia tidak lain adalah adik sepupu dari Walikota Kediri saat ini. Salah satu alasan kenapa mencalonkan diri menjadi Caleg DPR karena Hakim yakin mampu melakukan pendekatan, komunikasi dan lebih paham kebutuhan dari anak-anak muda di daerah pemilihnya.

Hakim pun tidak ciut ketika dihadapkan dengan pesaingnya dari partai lain yang secara usia lebih senior. Dia beranggapan cukup mampu berhadapan dengan siapapun yang usianya jauh di atasnya karena merasa memiliki keunggulan untuk menarik konstituennya yang dari kalangan muda.

Metode kampanye yang dilakukan Hakim juga lebih ke arah yang disukai anak-anak muda seperti nongkrong atau kongkow. Disanalah biasanya dia mendapatkan input dari masyarakat di dapilnya tersebut dari mulai permasalahan sampai keinginan apa bagi kalangan muda  yang bisa di bawanya kelak di DPR.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •